.

Pages

February 5, 2010

Mewaspadai Pembuat Fitnah

“Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (al-Qur’an) kepada kamu. Diantara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat, Itulah pokok-pokok isi al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Rabb kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” (QS Ali Imran: 7)

Oleh DR Muh Mu’inudinillah Basri, MA*

Ayat di atas merupakan fondasi kuat dalam memahami Islam secara benar sekaligus peringatan bagi kaum Muslimin dari bahaya liberalisme dan pluralisme. Menerangkan metode dan orientasi mereka dalam membuat fitnah, kekacauan akidah dan pemikiran. Rasulullah saw bersabda, “Kalau engkau melihat orang yang mencari-cari mutasyabih (ayat-ayat yang samar) darinya merekalah yang disebut oleh Allah, maka waspadailah mereka.” (HR Bukhari-Muslim)

Ayat-ayat al-Qur'an ada yang muhkamat yaitu yang gamblang maknanya, diketahui maknanya secara gampang dan tidak bisa diselewengkan. Ayat-ayat ini haruslah menjadi fondasi pembimbing dalam memahami akidah, syariah, ibadah, dan akhlak. Dan di antara ayat-ayat al-Qur'an ada yang mutasyabihat yaitu yang memiliki makna yang benar sesuai dengan ayat muhkamat, tapi dari redaksinya dan kata-kata bisa diselewengkan, ditakwilkan dengan takwil batil untuk menimbulkan fitnah, kerancuan, dan keragu-raguan dalam Islam.

Adanya ayat-ayat mutsyabihat sebagai ujian bagi manusia. Sebagian manusia beriman dengan ayat tersebut dengan maknanya yang benar, dan mengembalikan maknanya kepada yang muhkamat. Sebagian ada yang sengaja menggunakan ayat yang mutasyabihat untuk membuat kesesatan melalui takwil batil.

Allah SWT menyebutkan metode yang benar dalam memahami Islam yaitu merujuk kepada ayat-ayat yang sudah jelas, seperti masalah akidah tentang keesaan Allah, keyakinan bahwa Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah, dan tidak akan masuk surga kecuali Muslim.

Mengembalikan dan memaknai ayat-ayat yang mutasyabihat dengan makna yang sesuai dengan muhkamat, adalah akidah salafusshalih. Tercantum dalam surat al-Baqarah ayat 62. “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabi’in, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal shalih, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Melalui ayat yang jelas lugas maknanya, bahwa yang dimaksud beriman dan beramal shalih adalah beriman kepada kepada seluruh nabi termasuk Nabi Muhammad saw dengan masuk Islam. Adapun jika tidak masuk Islam, dan tidak beriman kepada Nabi Muhammad, mereka tetap kafir sejati sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam ayat 150-151 surat an-Nisa': “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: "Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)", serta bermaksud (dengan Perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan.”

Hadits Nabi juga sangat gamblang dalam menghukumi kekafiran orang Yahudi dan Nasrani, jika tidak masuk Islam. "Demi Dzat yang jiwa Mumammad di tangan-Nya tidaklah mendengar tentang aku seorang pun baik Yahudi atau Nasrani kemudian tidak mengikuti aku kecuali dia termasuk penghuni neraka.” (HR Muslim)

Tapi orang pluralis dan liberalis tidak mau mengikuti muhkamat ayat dan hadits dan menjadikan ayat di atas sebagai dasar menyamakan semua agama, padahal maksud ayat di atas tidak menunjukkan hal itu, maka sesatlah mereka serta orang yang mengikuti mereka. Pluralis dan liberalis tidak mau terikat dengan apapun dalam memahami Islam. Mereka memahami Islam dengan logika sesat yang bertentangan dengan ayat ayat dan hadits yang shahih. Padahal semua logika yang bertentangan dengan wahyu bukan logika melainkan hawa nafsu.

Dalam ajaran Islam sebagaimana dalam ayat dan hadits yang shahih bahwa Muslim yang dijamin selamat dan benar akidahnya hanyalah yang menyerahkan diri, tunduk dan patuh kepada Allah SWT.

*Ketua Program Magister Pemikiran Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta


Berita Sebelumnya:

No comments:

Post a Comment