Ibnu Abbas berada di belakang Rasulullah
SAW dan mendekap erat tubuhnya di kala itu umurnya masih sepuluh
tahunan. Lalu Rasulullah SAW memberikan nasihat mulia. “Jagalah
Allah niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya kau dapati Dia
di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah. Jika
engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah pertolongan kepada Allah.
Ketahuilah, seandainya seluruh makhluk saling bersatu memberikan suatu
keberuntungan niscaya hal itu tidak engkau dapatkan yang lebih agung
dari karunia yang telah Allah tetapkan untukmu. Sebaliknya, seandainya
seluruh makhluk saling bersatu dan melakukan sesuatu yang membahayakan
niscaya hal itu tidak engkau alami kecuali Allah telah tetapkan untukmu.
Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.” (HR. At-Tirmidzi)
April 15, 2015
Mengapa Orang Kafir Kaya dan Orang Muslim Miskin?
Apakah ini yang dimaksud dalam hadits “dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir”?
Jawaban:
Tidak benar bahwa orang non muslim
selalu lebih kaya dari pada orang muslim. Jika kita amati dengan
sungguh-sungguh, ada banyak orang non muslim yang miskin, sebagaimana
banyak pula orang muslim yang miskin.
Jika dilihat banyak muslim yang miskin,
itu karena mayoritas penduduk negeri ini beragama Islam. Sama halnya
dengan di Yunani dan beberapa Eropa yang saat ini sedang bangkrut,
hampir semua orang miskin di sana adalah non muslim karena mayoritas
penduduknya memang non muslim.
Dalam daftar orang-orang terkaya di
Indonesia tahun 2014, kita temukan nama-nama muslim banyak bertengger di
40 besar. Apalagi di negara-negara Arab dan Timur Tengah yang kaya
minyak. Mayoritas orang terkaya adalah muslim sebab merekalah penduduk
mayoritas di negeri-negeri itu.
Jadi, kaya dan miskin tidaklah selalu
identik dengan agama. Sebab Allah dengan sifat Rahman-Nya memberikan
rezeki kepada setiap orang, bukan hanya muslim saja. Allah juga
memberlakukan sunnah kauniyah bahwa siapa yang berusaha keras, bekerja
cerdas atau pandai berbisnis, mereka akan mendapatkan hasil berupa
kekayaan yang setimpal.
Namun, Allah juga memiliki sifat Rahim.
Yakni kasih sayang yang khusus Dia berikan kepada hamba-hambaNya yang
beriman. Kalaupun seorang mukmin itu miskin hidupnya di dunia, bisa jadi
itu ujian. Jika disikapi dengan sabar, ia akan mendapatkan Rahim-Nya
Allah berupa balasan berlipat ganda di akhirat dan dimasukkan ke dalam
surga.
Adapun orang-orang non muslim,
kekayaannya di dunia ini bisa jadi adalah balasan atas kerja keras dan
perbuatan baiknya selama di dunia. Tetapi di akhirat, mereka tidak
mendapatkan apa-apa. Bisa pula, kekayaan orang kafir di dunia ini
hanyalah bentuk istidraj dari Allah. Mereka disenang-senangkan di
dunia, dibiarkan memiliki harta kekayaan yang banyak sehingga mereka
makin kafir atau makin jahat, lalu mereka ditelungkupkan Allah ke dalam
neraka.
Adapun mengenai sabda Rasulullah:
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ ، وَجَنَّةُ الكَافِرِ
“Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR. Muslim)
Abdullah bin Mubarak pernah ditanya oleh
seorang yahudi. Seperti diketahui, Abdullah bin Mubarak ini adalah
ulama tabi’in yang kaya raya. Yahudi pedagang minyak eceran yang
pakaiannya kotor dan tangannya menghitam itu bertanya, “Wahai Ibnu
Mubarak, bukankah disebutkan dalam hadits bahwa dunia ini adalah penjara
bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir, tetapi mengapa engkau
yang muslim justru kaya raya dan aku yang non muslim justru miskin dan
menderita?”
Dengan wajah teduh Ibnu Mubarak
menjawab, “Kekayaan dan kebahagiaanku ini laksana penjara jika
dibandingkan dengan surga yang akan ditempati oleh orang mukmin nanti.
Sedangkan penderitaanmu di dunia ini belum ada apa-apanya dibandingkan
dengan neraka yang menantimu di akhirat nanti.”
Mendapat jawaban tersebut, penjual minyak tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia masuk Islam.
Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/bersamadakwah]
April 9, 2015
Dosa Besar : Pemimpin yang Dzalim Menipu Rakyatnya
Allah taala telah berfirman :
"Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat dhalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat adzab yang pedih" [QS. Asy-Syuuraa : 42].
"Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu" [QS. Al-Maaidah : 72].
Nabi shallallaahu alaihi wa sallam telah bersabda : ...
"Setiap orang di antara kalian adalah pemimpin, dan setiap orang di antara kamu akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang dipimpinnya...".[1]
.
"Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami".[2] ."
Kedhaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat".[3] . "
Pemimpin mana saja yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka".[4] . . : . "
Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]. Dalam lafadh yang lain disebutkan :"Ia mati dimana ketika matinya itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan baginya surga".[5]
"Tidaklah ada seorang pun yang memimpin sepuluh orang, kecuali ia didatangkan dengannya pada hari kiamat dalam keadaan tangannya terbelenggu di lehernya. Entah keadilannya akan membebaskannya ataukah justru kemaksiatannya (kedhalimannya) akan melemparkanya (ke neraka)".[6] . . .
"Ya Allah, siapa saja yang mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia"[Diriwayatkan oleh Muslim].[7] .
"Akan ada nanti para pemimpin yang fasiq lagi jahat. Barangsiapa yang membenarkan kedustaan mereka dan menolong kedhalimannya (atas rakyatnya), maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan termasuk golongannya. Ia tidak akan sampai pada Al-Haudl (telaga)".[8] .
"Tidaklah satu kaum yang di dalamnya dikerjakan satu perbuatan maksiat, dimana mereka yang tidak mengerjakan kemaksiatan itu lebih kuat dan lebih banyak daripada yang mengerjakannya, namun mereka tidak mengubah kemaksiatan tersebut; niscaya Allah akan menimpakan hukuman adzab pada mereka semua".[9] : : - - .
Abu Ubaidah bin Abdillah bin Masud meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu alaihi wa sallam : "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang maruf dan mencegah yang munkar, mengambil tangan orang-orang yang bersalah dan mengembalikannya kepada kebenaran dengan sebenar-benarnya; atau Allah akan memisahkan hati sebagian kalian dengan sebagian yang lain, kemudian Allah melaknat kalian sebagaimana Allah telah melaknat mereka yaitu Bani Israail melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam".[10]
Dan dari Aghlab bin Tamiim : Telah menceritakan kepada kami Al-Muallaa bin Ziyaad, dari Muaawiyyah bin Qurrah, dari Maqil bin Yasaar, dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda : : "Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan disentuh oleh syafaatku : (1) seorang pemimpin yang dhalim lagi penipu, dan (2) orang yang berlebih-lebihan dalam agama (ghulluw) yang bersaksi atas (kepemimpinan) mereka namun berlepas diri dari mereka". Hadits ini lemah (dlaiif). Ibnu Maalik telah meriwayatkan dimana ia berkata : Telah berkata Manii : Telah menceritakan kepadaku Muaawiyyah bin Qurrah, dengan lafadh semisal. Adapun Manii ini, tidak diketahui siapa dia sebenarnya.[11] Telah berkata Muhammad bin Juhaadah, dari Athiyyah, dari Abu Saiid Al-Khudriy secara marfuu : "Orang yang paling pedih/keras siksanya pada hari kiamat adalah pemimpin/imam yang dhalim".[12] Dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda : : "Wahai sekalian manusia : Perintahkanlah untuk berbuat yang maruf dan melarang perbuatan munkar sebelum kalian berdoa kepada Allah namun Ia tidak mengabulkannya, dan sebelum kalian meminta ampun kepada-Nya, namun Ia tidak mengampuni kalian. Sesungguhnya memerintahkan kepada yang maruf dan melarang dari perbuatan munkar tidak berakibat tertahannya rizki dan mendekatkan apa yang tertahan/tertunda. Dan sesungguhnya para rahib dari kalangan Yahudi dan pendeta dari kalangan Nashrani ketika mereka meninggalkan perbuatan memerintahkan kepada yang maruf dan melarang dari perbuatan munkar, Allah melaknat mereka melalui lisan para nabi mereka, kemudian menimpakan bencana pada mereka secara merata".[13] Beliau shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dari urusan kami yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak".[14] "Barangsiapa yang melakukan perbuatan jahat atau melindungi pelaku kejahatan, maka baginya laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya amal wajib maupun amal sunnah (yang ia kerjakan)".[15] "Barangsiapa yang tidak menyayangi (saudaranya), maka ia tidak akan disayangi (oleh Allah)".[16] "Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia".[17] "Tidak ada seorang pemimpin/penguasa pun yang diserahi urusan kaum muslimin kemudian ia tidak bersungguh-sungguh mengurusi mereka dan menasihati mereka, melainkan ia tidak akan masuk surga bersama mereka".[18] "Barangsiapa yang diserahi kepemimpinan terhadap urusan kaum muslimin namun ia menutup diri tidak mau tahu kebutuhan mereka dan kefakiran mereka, niscaya Allah tidak akan memperhatikan kebutuhannya dan kefakirannya di hari kiamat". Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidziy.[19] "Imam yang adil akan dinaungi oleh Allah (pada hari kiamat) di bawah naungan-Nya".[20] "Orang-orang yang adil berada di mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, dimana mereka berbuat adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan siapa saja yang berada di bawah kepemimpinan mereka".[21] . : ! : "Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah (orang) yang kalian membencinya dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknatnya dan mereka pun melaknat kalian". Para shahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, tidakkah kita boleh menyingkirkannya ?". Beliau shallallaahu alaihi wa sallambersabda : "Tidak, selama mereka mendirikan shalat di tengah-tengah kalian".[22] Keduanya (yaitu hadits ini dan sebelumnya) diriwayatkan oleh Muslim. : {}. "Sesungguhnya Allah benar-benar mengulur waktu bagi orang yang dhaalim hingga jika Ia mematikannya, Ia tidak akan meluputkannya". Kemudian beliau membaca ayat : "Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras".[23] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada Muaadz saat beliau mengutusnya ke negeri Yaman : . "Berhati-hatilah engkau terhadap harta-harta kesayangan mereka. Dan takutlah engkau terhadap doa orang yang terdhalimi, karena sesungguhnya tidak ada satu pun penghalang antaranya dan Allah".[24] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. . "Sesungguhnya seburuk-buruk penguasa adalah penguasa yang dhalim".[25] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. ....... "Ada tiga golongan yang tidaka akan diajak bicara oleh Allah". Kemudian beliau menyebutkan di antaranya pemimpin pendusta.[26] Allah taala berfirman : "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa" [QS. Al-Qashshash : 83]. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : . "Sesungguhnya kalian akan sangat menginginkan kekuasaan (imarah) padahal kelak ia akan menjadi penyesalan di hari kiamat". Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.[27] . "Sesungguhnya kami demi Allah tidak akan menyerahkan pekerjaan (yaitu jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi kepadanya". Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.[28] ! . "Wahai Kab bin Ujrah ! Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang pandir. Para pemimpin yang muncul setelahku dimana mereka tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan mengambil sunnah dengan sunnahku". Dishahihkan oleh Al-Haakim.[29] : - "Ada tiga doa mustajab yang tidak ada keraguan padanya : doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua kepada anaknya".[30] Sanadnya kuat.. [ ] Sumber :Kitab Al-Kabaairoleh Adz-Dzahabiy, hal. 37-44, tahqiq & takhrij : Abdurrazzaaq Al-Mahdiy; Daarul-Kitaab Al-Arabiy, Cet. Thn. 1425 H] - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2194315/dosa-besar-pemimpin-yang-dzalim-menipu-rakyatnya#sthash.rRqe7QrJ.dpuf
"Barangsiapa yang menipu kami, maka ia bukan termasuk golongan kami".[2] ."
Kedhaliman itu merupakan kegelapan di hari kiamat".[3] . "
Pemimpin mana saja yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka".[4] . . : . "
Barangsiapa yang diangkat oleh Allah untuk memimpin rakyatnya, kemudian ia tidak mencurahkan kesetiaannya, maka Allah haramkan baginya surga" [Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim]. Dalam lafadh yang lain disebutkan :"Ia mati dimana ketika matinya itu ia dalam keadaan menipu rakyatnya, maka Allah haramkan baginya surga".[5]
"Tidaklah ada seorang pun yang memimpin sepuluh orang, kecuali ia didatangkan dengannya pada hari kiamat dalam keadaan tangannya terbelenggu di lehernya. Entah keadilannya akan membebaskannya ataukah justru kemaksiatannya (kedhalimannya) akan melemparkanya (ke neraka)".[6] . . .
"Ya Allah, siapa saja yang mengurus urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah ia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah ia"[Diriwayatkan oleh Muslim].[7] .
"Akan ada nanti para pemimpin yang fasiq lagi jahat. Barangsiapa yang membenarkan kedustaan mereka dan menolong kedhalimannya (atas rakyatnya), maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan termasuk golongannya. Ia tidak akan sampai pada Al-Haudl (telaga)".[8] .
"Tidaklah satu kaum yang di dalamnya dikerjakan satu perbuatan maksiat, dimana mereka yang tidak mengerjakan kemaksiatan itu lebih kuat dan lebih banyak daripada yang mengerjakannya, namun mereka tidak mengubah kemaksiatan tersebut; niscaya Allah akan menimpakan hukuman adzab pada mereka semua".[9] : : - - .
Abu Ubaidah bin Abdillah bin Masud meriwayatkan dari ayahnya, ia berkata : Telah bersabda Rasulullahshallallaahu alaihi wa sallam : "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaklah kalian menyuruh yang maruf dan mencegah yang munkar, mengambil tangan orang-orang yang bersalah dan mengembalikannya kepada kebenaran dengan sebenar-benarnya; atau Allah akan memisahkan hati sebagian kalian dengan sebagian yang lain, kemudian Allah melaknat kalian sebagaimana Allah telah melaknat mereka yaitu Bani Israail melalui lisan Dawud dan Isa bin Maryam".[10]
Dan dari Aghlab bin Tamiim : Telah menceritakan kepada kami Al-Muallaa bin Ziyaad, dari Muaawiyyah bin Qurrah, dari Maqil bin Yasaar, dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda : : "Ada dua golongan dari umatku yang tidak akan disentuh oleh syafaatku : (1) seorang pemimpin yang dhalim lagi penipu, dan (2) orang yang berlebih-lebihan dalam agama (ghulluw) yang bersaksi atas (kepemimpinan) mereka namun berlepas diri dari mereka". Hadits ini lemah (dlaiif). Ibnu Maalik telah meriwayatkan dimana ia berkata : Telah berkata Manii : Telah menceritakan kepadaku Muaawiyyah bin Qurrah, dengan lafadh semisal. Adapun Manii ini, tidak diketahui siapa dia sebenarnya.[11] Telah berkata Muhammad bin Juhaadah, dari Athiyyah, dari Abu Saiid Al-Khudriy secara marfuu : "Orang yang paling pedih/keras siksanya pada hari kiamat adalah pemimpin/imam yang dhalim".[12] Dari Nabi shallallaahu alaihi wa sallam, beliau bersabda : : "Wahai sekalian manusia : Perintahkanlah untuk berbuat yang maruf dan melarang perbuatan munkar sebelum kalian berdoa kepada Allah namun Ia tidak mengabulkannya, dan sebelum kalian meminta ampun kepada-Nya, namun Ia tidak mengampuni kalian. Sesungguhnya memerintahkan kepada yang maruf dan melarang dari perbuatan munkar tidak berakibat tertahannya rizki dan mendekatkan apa yang tertahan/tertunda. Dan sesungguhnya para rahib dari kalangan Yahudi dan pendeta dari kalangan Nashrani ketika mereka meninggalkan perbuatan memerintahkan kepada yang maruf dan melarang dari perbuatan munkar, Allah melaknat mereka melalui lisan para nabi mereka, kemudian menimpakan bencana pada mereka secara merata".[13] Beliau shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : "Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dari urusan kami yang bukan berasal darinya, maka ia tertolak".[14] "Barangsiapa yang melakukan perbuatan jahat atau melindungi pelaku kejahatan, maka baginya laknat dari Allah, para malaikat, dan seluruh manusia. Tidak diterima darinya amal wajib maupun amal sunnah (yang ia kerjakan)".[15] "Barangsiapa yang tidak menyayangi (saudaranya), maka ia tidak akan disayangi (oleh Allah)".[16] "Allah tidak akan menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia".[17] "Tidak ada seorang pemimpin/penguasa pun yang diserahi urusan kaum muslimin kemudian ia tidak bersungguh-sungguh mengurusi mereka dan menasihati mereka, melainkan ia tidak akan masuk surga bersama mereka".[18] "Barangsiapa yang diserahi kepemimpinan terhadap urusan kaum muslimin namun ia menutup diri tidak mau tahu kebutuhan mereka dan kefakiran mereka, niscaya Allah tidak akan memperhatikan kebutuhannya dan kefakirannya di hari kiamat". Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidziy.[19] "Imam yang adil akan dinaungi oleh Allah (pada hari kiamat) di bawah naungan-Nya".[20] "Orang-orang yang adil berada di mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya, dimana mereka berbuat adil dalam hukum mereka, keluarga mereka, dan siapa saja yang berada di bawah kepemimpinan mereka".[21] . : ! : "Seburuk-buruk pemimpin kalian adalah (orang) yang kalian membencinya dan mereka pun membenci kalian, kalian melaknatnya dan mereka pun melaknat kalian". Para shahabat bertanya : "Wahai Rasulullah, tidakkah kita boleh menyingkirkannya ?". Beliau shallallaahu alaihi wa sallambersabda : "Tidak, selama mereka mendirikan shalat di tengah-tengah kalian".[22] Keduanya (yaitu hadits ini dan sebelumnya) diriwayatkan oleh Muslim. : {}. "Sesungguhnya Allah benar-benar mengulur waktu bagi orang yang dhaalim hingga jika Ia mematikannya, Ia tidak akan meluputkannya". Kemudian beliau membaca ayat : "Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya itu adalah sangat pedih lagi keras".[23] Diriwayatkan oleh Al-Bukhariy dan Muslim. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam pernah berkata kepada Muaadz saat beliau mengutusnya ke negeri Yaman : . "Berhati-hatilah engkau terhadap harta-harta kesayangan mereka. Dan takutlah engkau terhadap doa orang yang terdhalimi, karena sesungguhnya tidak ada satu pun penghalang antaranya dan Allah".[24] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. . "Sesungguhnya seburuk-buruk penguasa adalah penguasa yang dhalim".[25] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim. ....... "Ada tiga golongan yang tidaka akan diajak bicara oleh Allah". Kemudian beliau menyebutkan di antaranya pemimpin pendusta.[26] Allah taala berfirman : "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa" [QS. Al-Qashshash : 83]. Nabi shallallaahu alaihi wa sallam bersabda : . "Sesungguhnya kalian akan sangat menginginkan kekuasaan (imarah) padahal kelak ia akan menjadi penyesalan di hari kiamat". Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.[27] . "Sesungguhnya kami demi Allah tidak akan menyerahkan pekerjaan (yaitu jabatan) ini kepada orang yang memintanya atau orang yang berambisi kepadanya". Diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim.[28] ! . "Wahai Kab bin Ujrah ! Semoga Allah melindungimu dari kepemimpinan orang-orang pandir. Para pemimpin yang muncul setelahku dimana mereka tidak mengambil petunjuk dengan petunjukku dan mengambil sunnah dengan sunnahku". Dishahihkan oleh Al-Haakim.[29] : - "Ada tiga doa mustajab yang tidak ada keraguan padanya : doa orang yang teraniaya, doa orang yang sedang bepergian (musafir), dan doa orang tua kepada anaknya".[30] Sanadnya kuat.. [ ] Sumber :Kitab Al-Kabaairoleh Adz-Dzahabiy, hal. 37-44, tahqiq & takhrij : Abdurrazzaaq Al-Mahdiy; Daarul-Kitaab Al-Arabiy, Cet. Thn. 1425 H] - See more at: http://mozaik.inilah.com/read/detail/2194315/dosa-besar-pemimpin-yang-dzalim-menipu-rakyatnya#sthash.rRqe7QrJ.dpuf
Subscribe to:
Comments (Atom)