.

Pages

February 6, 2010

Membendung Arus Liberalisme Di Indonesia


membendungarusliberalisme-fiqisabili


Pandangan liberalisme di Indonesia dikupas oleh DR. Adian Husaini dalam Bedah Buku “Membendung Arus Liberalisme di Indonesia” pada Pesta Buku Jakarta, Sabtu (4/7), di Ruang Anggrek lantai 2 Istora Gelora Bung Karno Senayan. Buku terbarunya yang merupakan Kumpulan Catatan Akhir Pekan selama beliau aktif menulis di situs Hidayatullah.com dan siaran di radio Dakta ini dikupas tidak hanya oleh penulis sendiri tetapi juga menghadirkan KH. Ali Mustafa Yaqub, Imam Mesjid Istiqlal, yang menyampaikan pandangan liberalisme dari sudut agama.

Penulis yang menamatkan S1 dari kedokteran hewan ini sudah sejak tahun 2001 menulis buku tentang liberalisme. “Saya merasa berdosa jika tidak menulis buku ini”, ujarnya.

Menurut Adhian, inti dari liberalisme agama adalah pluralisme agama itu sendiri. “Bahkan Vatikan sendiri sejak tahun 2000 sudah mengeluarkan fatwa haramnya pluralisme agama. Jauh hari sebelum MUI mengeluarkan fatwanya pada tahun 2005. Namun kenapa fatwa MUI ini dicaci, sedangkan dekrit Vatikan yang sudah ada sebelumnya tidak dicaci?”.

KH Ali Mustafa juga menambahkan pemisahan mutlak antara politik dan agama juga merupakan bagian dari liberalisme agama. Bahkan usaha untuk mensekulerkan Indonesia sudah ada sejak lama. Penggunaan ilmu hermeneutika untuk menafsirkan Al Qur’an juga merupakan bagian dari liberalisme agama, padahal Islam mempunyai ilmu sendiri dalam mentafsirkan kandungan Al Qur’an yaitu Ilmu Tafsir.

Acara Bedah Buku yang dihadiri sekitar 50 orang ini juga menerangkan tentang perbedaan antara pluralisme agama dan pluralitas agama. Pluralitas agama merupakan sebuah kenyataan atau fakta yang terjadi di suatu wilayah atau negara mengenai banyaknya agama di wilayah atau negara tersebut.

Sedangkan pluralisme agama merupakan paham yang mengatakan bahwa semua agama itu benar dan akan masuk syurga bersama-sama, hanya saja jalan untuk menuju syurga itu berbeda-beda, yaitu melalui agama yang berbeda-beda. Pluralisme agama seperti inilah yang merupakan bagian dari liberalisme agama.

“Ketika perpolitikan dan perekonomian di Indonesia telah liberal, maka agar liberalnya kaffah, maka kita saat ini sedang menghadapi yang namanya liberalisme agama,” demikian pandangan KH. Ali Mustafa.

Liberalisme agama adalah ancaman yang dahsyat. Maka buku-buku semacam yang ditulis Adhian ini memang tidak boleh berhenti penulisannya. Agar Umat Islam tidak terkecoh.

No comments:

Post a Comment